Tutorial Lengkap : Deploy Aplikasi Web Menggunakan PHP 7 & Membuat Virtual Drive pada Windows Server 2003

shares |

Pernahkah kamu menghadapi situasi di mana harus mengelola server lama untuk kebutuhan lab atau sekadar eksperimen? Belakangan ini, saya bereksperimen dengan Windows Server 2003 dan menemukan tantangan menarik saat mencoba menjalankan aplikasi PHP versi terbaru di atasnya. Ternyata, dengan sedikit trik—mulai dari manajemen virtual drive hingga penyesuaian direktori—kita tetap bisa membuatnya berjalan dengan lancar. Yuk, simak tutorial lengkapnya di sini!

Bagian 1: Menyiapkan Aplikasi Web di Direktori htdocs

Langkah pertama dalam mendeploy aplikasi web berbasis PHP 7 adalah memastikan file proyek kamu berada di lokasi yang tepat agar dapat dikenali oleh web server. Di XAMPP, lokasi ini adalah folder htdocs.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Siapkan Folder Proyek: Pastikan folder aplikasi web kamu (dalam contoh ini adalah folder bernama jasa) sudah siap di komputer kamu.

  2. Akses Direktori XAMPP: Buka File Explorer dan arahkan ke lokasi instalasi XAMPP, biasanya berada di C:\xampp\.

  3. Pindahkan ke htdocs: Buka folder htdocs, lalu pindahkan atau salin folder jasa ke dalamnya.

  4. Verifikasi Lokasi: Pastikan folder proyek kamu kini berada di dalam direktori C:\xampp\htdocs\. Kamu bisa melihat referensi visual pada image_92d78e.png untuk memastikan lokasinya sudah benar.

Dengan menempatkan folder di dalam htdocs, aplikasi kamu kini siap untuk diproses oleh server lokal!

Bagian 2: Menjalankan Server & Setup Database

Setelah folder aplikasi sudah berada di htdocs, sekarang saatnya menghidupkan mesin server dan menyiapkan "otak" dari aplikasi tersebut, yaitu database.

1. Menjalankan XAMPP Control Panel

Langkah pertama adalah memastikan web server (Apache) dan database server (MySQL) berjalan.

  • Buka XAMPP Control Panel dari menu Start atau folder instalasi XAMPP.

  • Klik tombol Start pada bagian Apache dan MySQL.

  • Pastikan kedua modul tersebut berwarna hijau, yang menandakan server sudah aktif.

2. Membuat Database

Agar aplikasi web kamu bisa menyimpan data, kita perlu membuat database dengan nama yang sesuai.

  • Buka web browser (Chrome/Edge/Firefox).

  • Ketik localhost/phpmyadmin di address bar, lalu tekan Enter.

  • Klik menu New pada panel sebelah kiri.

  • Di kolom Database name, beri nama database yang sesuai (contoh: db_jasa). Catatan: Pastikan nama ini sesuai dengan konfigurasi koneksi database di kodingan aplikasi kamu.

  • Klik Create.




3. Mengimpor File SQL

Jika aplikasi kamu memiliki file data (biasanya berakhiran .sql), kamu perlu mengimpornya agar struktur tabel terbentuk otomatis.

  • Pilih database yang baru saja kamu buat (contoh: db_jasa) di menu sebelah kiri.

  • Klik tab Import di bagian atas layar.

  • Klik tombol Choose File, lalu cari dan pilih file .sql milik proyek kamu.

  • Gulir ke bawah dan klik tombol Go.

  • Tunggu hingga muncul pesan sukses (biasanya ditandai dengan latar belakang hijau)


Bagian 3: Konfigurasi Koneksi & Uji Coba Aplikasi

Setelah database siap, langkah terakhir sebelum aplikasi bisa digunakan adalah memastikan kodingan PHP kamu "berbicara" dengan database yang benar.

1. Menyesuaikan File Koneksi

Setiap aplikasi web biasanya memiliki satu file pusat untuk pengaturan database (sering diberi nama koneksi.php, config.php, atau db.php).

  • Buka folder proyek kamu (C:\xampp\htdocs\jasa) menggunakan text editor (seperti Notepad++, VS Code, atau Sublime Text).

  • Cari file koneksi tersebut. Biasanya di dalamnya terdapat variabel konfigurasi seperti berikut:


  • Pastikan detailnya sama:

    • $host: Biasanya tetap localhost.

    • $user: Secara default XAMPP adalah root.

    • $pass: Secara default XAMPP tidak memiliki password (biarkan kosong ""), kecuali kamu sudah mengubahnya di pengaturan MySQL.

    • $db: Harus sama persis dengan nama database yang kamu buat di phpMyAdmin sebelumnya.

2. Running Aplikasi di Browser

Setelah kodingan disimpan, saatnya melihat hasil kerja kerasmu:

  • Buka web browser kesayangan kamu.

  • Ketik alamat berikut di address bar: http://localhost/jasa (ganti jasa dengan nama folder proyekmu jika berbeda).

  • Jika tidak ada pesan error, maka aplikasi web kamu sudah berhasil terhubung dengan database dan siap digunakan!



Tips Pro: Mengamankan File dengan Perintah Atrib

Sebagai langkah tambahan untuk keamanan, kita bisa mengubah atribut file index.php menjadi Read-Only. Ini berguna agar file utama aplikasi kamu tidak bisa diubah atau dihapus secara tidak sengaja melalui file explorer tanpa izin khusus.

Berikut caranya menggunakan Command Prompt (CMD):

  1. Buka Folder Proyek di CMD:

    • Masuk ke folder C:\xampp\htdocs\jasa.

    • Di address bar folder tersebut, ketik cmd lalu tekan Enter. Jendela Command Prompt akan terbuka langsung di lokasi tersebut.

  2. Jalankan Perintah Atrib:

    • Di jendela CMD, ketik perintah berikut: attrib +R index.php

    • Tekan Enter.

  3. Verifikasi:

    • Sekarang, cobalah buka file index.php tersebut dan coba ubah isinya. Kamu akan mendapati sistem akan menolak perubahan tersebut atau meminta izin akses tambahan karena statusnya sudah Read-Only.



Catatan: Jika suatu saat kamu perlu melakukan update atau edit pada file tersebut, kamu tinggal mengganti tanda plus (+) menjadi minus (-) dengan perintah: attrib -R index.php.

Bagian: Menambahkan Virtual Drive Baru

Sebelum kita bisa menggunakannya di dalam Windows Server 2003, kita perlu "memasang" hard disk tambahan secara virtual.



  1. Buka Pengaturan VM: Pastikan mesin virtual Windows Server 2003 dalam keadaan mati (Powered Off). Klik kanan pada mesin tersebut di VirtualBox, lalu pilih Settings.

  2. Masuk ke Menu Storage: Klik tab Storage pada menu di sebelah kiri.

  3. Tambah Hard Disk:

    • Lihat pada bagian Controller: IDE (atau SATA), klik ikon Add Hard Disk (ikon hard disk dengan tanda plus hijau).

    • Pilih Create untuk membuat Virtual Hard Disk baru.

  4. Konfigurasi Disk:

    • Pilih format VDI (VirtualBox Disk Image).

    • Pilih Dynamically allocated agar ukuran file di host PC tidak langsung memakan ruang penyimpanan maksimal.

    • Tentukan nama dan ukuran disk (misalnya: 5GB atau 10GB).

    • Klik Finish.

  5. Selesaikan: Setelah disk muncul di daftar Storage, klik OK untuk menyimpan perubahan.



Verifikasi Virtual Drive Baru

Setelah proses inisialisasi dan pembuatan partisi selesai, saatnya kita memastikan bahwa virtual drive tersebut sudah terbaca oleh sistem operasi Windows Server 2003.

Seperti yang terlihat pada gambar ada dua poin penting yang menandakan bahwa konfigurasi berhasil:

  • Pada jendela Computer Management (kiri): Kamu bisa melihat di menu Disk Management bahwa Disk 2 kini berstatus Online dengan kapasitas 14.99 GB, sistem berkas NTFS, dan sudah memiliki label volume "kezia" pada drive (E:).

  • Pada jendela My Computer (kanan): Drive baru tersebut kini muncul secara resmi di daftar Hard Disk Drives. Ini menandakan virtual drive siap digunakan untuk menyimpan data aplikasi web atau berkas penting lainnya secara terpisah dari sistem utama (C:).

Sekarang, penyimpanan tambahan ini sudah aktif dan terintegrasi sempurna di dalam mesin virtual kamu!









Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar