[Seri GSA #3] Dari 4 Event dalam Sehari hingga Menjadi Top 50 Achiever ⭐⭐⭐

shares |

Menjadi Google Student Ambassador ternyata bukan hanya tentang membuat konten edukatif di media sosial atau mengenalkan teknologi Google kepada masyarakat. Ada tantangan yang jauh lebih besar: menciptakan dampak nyata secara langsung melalui kegiatan di lingkungan sekitar.

Setelah berhasil menyelesaikan berbagai misi mingguan dan masuk ke dalam Tier Rising Star, yaitu 500 Google Student Ambassador tercepat yang berhasil menyelesaikan milestone awal, saya merasa perjalanan terberat mungkin sudah berlalu. Namun ternyata, itu hanyalah awal dari tantangan berikutnya.

Target selanjutnya adalah Tier Achiever.

Di tahap ini, kemampuan kami tidak lagi dinilai hanya dari aktivitas digital, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi yang mampu kami berikan secara langsung kepada komunitas.

Tantangan yang Terasa Hampir Mustahil

Tim Google memberikan sebuah misi yang cukup menantang.

Setiap Google Student Ambassador diwajibkan menyelenggarakan empat kegiatan edukasi secara offline, dengan minimal 20 peserta di setiap acara. Seluruh kegiatan harus dilaksanakan dalam periode yang telah ditentukan dan didokumentasikan sebagai bentuk laporan.

Untuk mendukung pelaksanaan acara, Google menyediakan dana sponsor     untuk setiap kegiatan. Namun, tantangan sesungguhnya bukanlah soal pendanaan.

Hanya 50 Google Student Ambassador terbaik dari seluruh Indonesia yang akan dipilih sebagai Top Achiever, berdasarkan kualitas kontribusi dan dampak yang berhasil mereka ciptakan.

Saat membaca ketentuan tersebut, saya langsung terdiam.

Sebagai seorang karyawan full-time yang bekerja dari Senin hingga Jumat, saya mulai menghitung jadwal yang saya miliki. Siang hari saya berada di kantor. Malam hari digunakan untuk kuliah online. Hari Sabtu diisi dengan kuliah tatap muka hampir seharian, sementara Minggu biasanya saya gunakan untuk beristirahat dan beribadah.

Semakin dihitung, semakin terlihat bahwa waktu yang saya miliki hampir tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan empat kegiatan offline secara terpisah.

Untuk sesaat saya sempat berpikir bahwa mungkin saya memang harus berhenti sampai di Tier Rising Star.

Namun, setelah mengingat kembali perjuangan yang sudah saya lalui sejak proses seleksi, saya merasa sayang jika menyerah begitu saja.

Saya kemudian menyadari bahwa mungkin saya tidak bisa menambah waktu, tetapi saya masih bisa mengubah cara memanfaatkannya.

Keputusan Mengambil Cuti

Setelah berdiskusi dengan atasan di kantor dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, saya akhirnya mengambil keputusan yang cukup berani.

Saya mengajukan cuti kerja selama satu hari.

Bagi sebagian orang, satu hari cuti mungkin terdengar sederhana. Namun bagi saya yang masih memiliki tanggung jawab pekerjaan sekaligus kuliah, keputusan tersebut harus dipikirkan dengan sangat matang. Saya memastikan seluruh pekerjaan sudah diselesaikan terlebih dahulu agar tidak mengganggu tim ketika saya tidak berada di kantor.

Karena kesempatan cuti sangat terbatas, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang terdengar cukup nekat.

Alih-alih menyelenggarakan empat kegiatan pada hari yang berbeda, saya memilih menjalankan keempat event tersebut dalam satu hari yang sama secara maraton.

Saya tahu risikonya besar. Jika ada satu saja kendala teknis yang membuat jadwal mundur, seluruh rangkaian acara bisa ikut berantakan.

Namun, saya percaya bahwa persiapan yang matang akan memperbesar peluang keberhasilan.

One-Man Show dari Pagi hingga Sore

Persiapan dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan.

Hampir seluruh proses saya kerjakan sendiri.

Saya menyusun materi presentasi untuk empat sesi yang berbeda agar peserta mendapatkan pembahasan yang bervariasi. Saya membuat formulir pendaftaran, menyusun daftar hadir, membuat grup WhatsApp peserta, hingga menyusun rundown acara secara rinci agar perpindahan antar sesi dapat berjalan tepat waktu.



Saya juga menghubungi dosen kemahasiswaan Universitas Pamulang untuk meminta bantuan menyebarkan informasi kepada mahasiswa yang berminat mengikuti kegiatan. Setelah itu, saya mengurus peminjaman ruangan, proyektor, kebutuhan konsumsi peserta, serta berbagai administrasi lain yang diperlukan agar acara dapat berjalan lancar.

Menjelang hari pelaksanaan, daftar pekerjaan terasa tidak ada habisnya.

Mulai dari memastikan materi sudah siap, mengecek perlengkapan presentasi, menghubungi peserta yang sudah mendaftar, hingga memastikan konsumsi tiba tepat waktu.

Beruntung, saya dibantu oleh dua orang rekan mahasiswa yang bersedia membantu proses dokumentasi foto dan video selama acara berlangsung.

Di luar itu, hampir seluruh pelaksanaan acara saya tangani sendiri.

Saya membuka acara, menjadi moderator, menyampaikan materi, menjawab pertanyaan peserta, mengatur perpindahan sesi, hingga menutup kegiatan sebelum kembali mempersiapkan sesi berikutnya.

Empat kali.

Dalam satu hari.

Dari pagi hingga sore.

Rasa lelah tentu tidak bisa dihindari. Suara mulai serak setelah berbicara selama berjam-jam. Energi perlahan menurun seiring berjalannya sesi demi sesi.

Namun setiap kali melihat antusiasme peserta yang aktif bertanya, mencoba fitur-fitur AI yang diperkenalkan, dan berdiskusi mengenai bagaimana teknologi dapat membantu aktivitas belajar maupun pekerjaan, rasa lelah itu seolah berubah menjadi semangat baru.

Dukungan dari dosen serta pihak Universitas Pamulang juga menjadi salah satu alasan mengapa seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Sebuah Pengumuman yang Mengubah Segalanya

Beberapa hari setelah seluruh laporan kegiatan dikirimkan kepada tim Google, tibalah saat yang paling saya tunggu.

Pengumuman resmi Top Achiever akhirnya dirilis.

Dengan jantung berdebar, saya membuka daftar nama yang diumumkan.

Saya terus menggulir layar hingga akhirnya menemukan nama saya berada di dalam daftar tersebut.


Saya resmi terpilih sebagai Top 50 Achiever Google Student Ambassador Indonesia dari sekitar 2.000 Google Student Ambassador yang mengikuti program.

Saat itu saya benar-benar terdiam.

Semua rasa lelah karena mempersiapkan empat acara, keputusan mengambil cuti kerja, hingga berlari dari satu sesi ke sesi berikutnya akhirnya terbayarkan.

Namun, penghargaan tersebut bukanlah hal yang paling berkesan bagi saya.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa keterbatasan waktu tidak selalu menjadi penghalang untuk memberikan dampak. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mengambil keputusan, menyusun strategi, dan tetap mengeksekusinya dengan penuh tanggung jawab.

Saya percaya setiap orang memiliki tantangan yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki waktu luang, fasilitas yang lengkap, atau kondisi yang ideal. Akan tetapi, selama kita mau mencari solusi daripada terus mencari alasan, selalu ada jalan untuk terus melangkah.

Satu hari cuti mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Namun bagi saya, satu hari itu menjadi titik balik yang membuktikan bahwa keputusan kecil yang disertai keberanian dan kerja keras dapat membawa kita menuju pencapaian yang sebelumnya terasa mustahil.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar