[Seri GSA #2] Dari Followers 800-an Hingga Tembus 50 Ribu Views: Belajar Bekerja Sama dengan Algoritma

shares |

Saat menerima pengumuman bahwa saya resmi lolos sebagai Google Student Ambassador (GSA), saya membayangkan perjalanannya akan dipenuhi kegiatan seperti menghadiri seminar teknologi, berdiskusi dengan komunitas, atau sesekali mengenakan merchandise keren dari Google. Rasanya seperti menjadi bagian dari komunitas yang penuh inspirasi dan kesempatan belajar.

Namun, beberapa hari setelah onboarding, saya menyadari bahwa bayangan itu hanyalah sebagian kecil dari perjalanan yang sebenarnya.

Ternyata, setiap Google Student Ambassador memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan berbagai misi selama 19 minggu berturut-turut. Setiap minggunya tersedia tiga pilihan brief konten yang harus dipilih dan dipublikasikan di media sosial. Topiknya beragam, mulai dari memperkenalkan fitur-fitur Google AI, membagikan tips produktivitas, hingga membuat konten edukatif yang menarik bagi masyarakat.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menjadi content creator, tantangan ini mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi saya, tugas tersebut terasa seperti berdiri di depan tembok yang sangat tinggi. Saya bukan seseorang yang aktif membuat video, apalagi memahami algoritma media sosial.

Dua Kendala yang Membuat Saya Ragu

Saat itu saya menghadapi dua kenyataan yang cukup membuat minder.

Pertama, saya sama sekali belum memiliki kemampuan video editing yang baik. Saya hanya mengetahui fungsi-fungsi dasar aplikasi edit video, bahkan belum memahami bagaimana membuat transisi yang menarik, menambahkan subtitle dengan rapi, atau mengikuti ritme video yang sedang tren.

Kedua, akun media sosial saya juga belum memiliki jangkauan yang besar. Instagram saya hanya memiliki sekitar 800 pengikut, sedangkan TikTok yang saya miliki lebih sering menjadi tempat menonton dibanding mengunggah konten. Saya tidak memiliki pengalaman membangun personal branding melalui media sosial.

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari saya sudah cukup padat.

Setiap hari Senin hingga Jumat saya bekerja penuh waktu dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Setelah pulang kerja, saya masih harus mengikuti perkuliahan online dan menyelesaikan berbagai tugas kampus. Hari Sabtu diisi dengan kuliah tatap muka hampir seharian penuh. Artinya, waktu luang yang saya miliki benar-benar terbatas.

Di tengah jadwal tersebut, saya tetap harus memikirkan ide konten, menulis naskah, mengambil video, mengedit, membuat caption, hingga mengunggahnya tepat waktu setiap minggu.

Jujur, ada beberapa momen ketika saya merasa kewalahan.

Saya sempat bertanya pada diri sendiri, "Apa saya benar-benar sanggup menyelesaikan semua ini selama hampir lima bulan?"

Namun kemudian saya teringat alasan awal mengapa saya mendaftar GSA. Saya ingin keluar dari zona nyaman dan mempelajari hal-hal baru. Kalau saya menyerah ketika baru memulai, maka tujuan itu tidak akan pernah tercapai.

Belajar dari Nol

Alih-alih terus memikirkan kekurangan, saya mulai mencari solusi.

Saya mengunduh aplikasi editing di ponsel dan mempelajarinya secara otodidak. Hampir setiap ada waktu luang, saya mencoba berbagai fitur baru. Saat jam istirahat kantor, saya sering menyusun konsep konten atau menulis script singkat yang nantinya direkam setelah pulang kerja.

Saya juga mulai memperhatikan bagaimana para content creator menyampaikan informasi. Saya belajar tentang pentingnya tiga detik pertama dalam video, penggunaan hook yang menarik perhatian, ritme editing yang cepat, hingga bagaimana menyampaikan materi yang kompleks menjadi informasi yang sederhana dan mudah dipahami.

Perlahan, proses membuat konten yang awalnya terasa sangat rumit mulai menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Meskipun hasilnya belum sempurna, saya memilih untuk tetap mengunggah setiap video. Saya percaya bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada menunggu semuanya menjadi sempurna.

Keajaiban Bekerja Sama dengan Algoritma

Beberapa minggu kemudian, sesuatu yang sama sekali tidak saya duga terjadi.

Saya membuat sebuah video sederhana yang membahas fitur Gemini Canvas. Tidak ada peralatan khusus, tidak ada studio profesional, hanya kamera ponsel, proses editing sederhana, dan materi yang saya susun sendiri.

Beberapa jam setelah diunggah, angka penonton mulai meningkat.

Ratusan.

Lalu ribuan.

Kemudian puluhan ribu.

Video tersebut akhirnya berhasil menembus lebih dari 50.000 tayangan, memperoleh lebih dari 2.000 likes, disimpan oleh sekitar 1.500 pengguna, dan dibagikan lebih dari 400 kali.

Saya benar-benar tidak menyangka.

Setiap kali membuka aplikasi, notifikasi terus berdatangan. Ada yang bertanya tentang fitur Gemini, ada yang mengucapkan terima kasih karena videonya membantu, bahkan ada yang mulai mengikuti akun saya karena ingin melihat konten teknologi lainnya.

Tak lama setelah itu, video unboxing Welcome Kit Google Student Ambassador yang saya unggah di Instagram Reels juga mendapatkan respons yang luar biasa. Video tersebut berhasil mencapai hampir 20.000 views dan memperoleh lebih dari 3.000 likes.

Perlahan tetapi pasti, jumlah pengikut Instagram saya bertambah dari sekitar 800 menjadi lebih dari 1.800 followers.

Saat itu saya mulai memahami bahwa algoritma media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Algoritma hanyalah sistem yang membantu mempertemukan konten yang bermanfaat dengan orang-orang yang memang membutuhkannya. Tugas saya hanyalah terus membuat konten yang memiliki nilai bagi audiens.

Lebih dari Sekadar Views

Tentu saja, melihat angka puluhan ribu views memberikan rasa bahagia dan bangga. Namun, setelah perjalanan itu selesai, saya menyadari bahwa pencapaian terbesar saya bukanlah jumlah penonton ataupun banyaknya pengikut.

Pencapaian terbesar saya adalah perubahan dalam diri sendiri.

Program Google Student Ambassador membuat saya mempelajari kemampuan yang sebelumnya sama sekali tidak saya miliki. Saya belajar membuat konten dari nol, memahami dasar-dasar editing video, melatih kemampuan berbicara di depan kamera, mempelajari cara menyampaikan informasi secara menarik, hingga membangun konsistensi di tengah jadwal yang sangat padat.

Saya juga belajar bahwa tidak perlu menunggu menjadi ahli untuk mulai berkarya. Justru keberanian untuk memulai adalah guru terbaik yang membuat kemampuan kita berkembang sedikit demi sedikit.

Kini, ketika melihat kembali video-video pertama yang saya buat, saya sering tersenyum sendiri. Kualitasnya memang jauh dari sempurna. Namun tanpa video-video sederhana itu, saya tidak akan pernah sampai pada titik di mana saya bisa menjangkau puluhan ribu orang melalui sebuah konten.

Perjalanan sebagai Google Student Ambassador mengajarkan saya bahwa setiap keterbatasan selalu bisa diubah menjadi peluang untuk bertumbuh. Terkadang, yang kita butuhkan bukan algoritma yang sempurna, melainkan keberanian untuk terus berkarya dan konsisten. Pada akhirnya, bukan hanya algoritma yang mulai berpihak kepada saya, tetapi juga rasa percaya diri yang tumbuh dari setiap proses yang berhasil saya lewati.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar