[Seri GSA #1] From 81.000+ Registranst to 2000 Selected Google Student Ambassador : Perjalanan Saya Menjadi Google Student Ambassador

shares |

Bagi seorang pekerja full-time sekaligus mahasiswa, waktu adalah barang paling mewah. Setiap jam dalam seminggu seolah sudah memiliki tempatnya masing-masing. Senin hingga Jumat saya bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan IT, lalu setiap malam mengikuti perkuliahan online. Hari Sabtu dihabiskan untuk kuliah tatap muka dari pagi hingga sore, sedangkan hari Minggu saya gunakan untuk beribadah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Di tengah rutinitas yang begitu padat, rasanya hampir tidak ada ruang untuk mencoba sesuatu yang baru.

Namun, tantangan terbesar sebenarnya bukanlah soal jadwal yang padat, melainkan keraguan terhadap diri sendiri. Saya sering bertanya, "Apakah orang biasa seperti saya benar-benar mampu bersaing di tingkat nasional?" Pikiran itu terus muncul setiap kali melihat berbagai program bergengsi yang diikuti oleh mahasiswa dari kampus-kampus ternama. Saya merasa kemampuan saya mungkin belum cukup untuk berada di antara mereka.

Terinspirasi dari Rekan Seperjuangan

Semua bermula dari sebuah pengamatan sederhana. Saya melihat seorang rekan mahasiswa di kampus saya, Universitas Pamulang (Unpam), yang berhasil lolos menjadi Google Student Ambassador Batch 1. Kesibukannya tidak jauh berbeda dengan saya. Ia juga harus membagi waktu antara berbagai aktivitas, tetapi tetap mampu membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk meraih kesempatan besar.

Saat itu saya berpikir, "Kalau beliau bisa melewatinya, kenapa saya tidak mencoba?"

Kalimat sederhana tersebut perlahan mengubah cara pandang saya. Saya menyadari bahwa kesempatan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki banyak waktu luang atau berasal dari kampus tertentu. Kesempatan juga dimiliki oleh siapa saja yang berani mengambil langkah pertama. Berbekal keyakinan itu, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai Google Student Ambassador.

Tahap seleksi administrasi berhasil saya lewati. Namun, tantangan sesungguhnya datang pada tahap berikutnya, yaitu wawancara melalui video YouTube. Peserta diminta menjawab empat pertanyaan dari tim Google dalam durasi maksimal empat menit dengan aturan yang cukup menantang: no cut, no edit. Artinya, seluruh jawaban harus disampaikan dalam satu kali pengambilan video tanpa kesalahan yang berarti.

Perjuangan Jam 5 Pagi di Ruang Kantor

Sebagai seseorang yang cukup perfeksionis, tahap ini benar-benar menguji kesabaran saya. Menyampaikan pengalaman, motivasi, dan gagasan dalam waktu yang sangat terbatas ternyata jauh lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Berkali-kali saya mengulang rekaman hanya karena ada satu kata yang kurang jelas, intonasi yang kurang tepat, atau ekspresi yang menurut saya belum maksimal.

Masalah berikutnya adalah mencari waktu untuk merekam video.

Sepulang kerja, tenaga dan fokus saya sudah banyak terkuras. Malam hari harus digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, sehingga hampir tidak ada waktu tersisa untuk membuat video dengan kualitas yang baik. Di rumah pun suasananya tidak selalu kondusif untuk proses rekaman yang membutuhkan ketenangan.

Akhirnya, saya mengambil keputusan yang mungkin terdengar sedikit nekat. Saya memilih datang ke kantor pukul lima pagi, jauh sebelum jam kerja dimulai.

Di ruangan kantor yang masih sunyi, hanya ditemani cahaya lampu dan kamera ponsel, saya mulai merekam video. Berkali-kali saya mengulang pengambilan gambar hingga akhirnya menemukan versi terbaik yang benar-benar mampu merepresentasikan siapa diri saya. Saat itu saya sadar bahwa perjuangan bukan hanya soal bekerja keras, tetapi juga tentang mencari solusi ketika keadaan tidak mendukung.

Walaupun harus mengorbankan waktu istirahat dan bangun jauh lebih pagi dari biasanya, saya merasa semua usaha tersebut layak dilakukan. Saya tidak ingin menyesal karena menyerah bahkan sebelum benar-benar mencoba.

Pelajaran Berharga di Balik Kelolosan

Proses pembuatan video tersebut memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi syarat seleksi. Saya belajar bagaimana menyampaikan ide yang kompleks menjadi pesan yang sederhana, jelas, dan langsung pada inti permasalahan. Saya juga belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang bagaimana membuat orang lain memahami apa yang ingin kita sampaikan dalam waktu yang singkat.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa rasa percaya diri bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Kepercayaan diri dibangun melalui proses, latihan, dan keberanian untuk terus mencoba meskipun berkali-kali merasa belum cukup baik.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman resmi akhirnya tiba.



Di antara lebih dari 81.000 pendaftar dari seluruh Indonesia, saya berhasil menjadi salah satu dari 2.000 peserta yang dinyatakan lolos sebagai Google Student Ambassador.

Saya masih ingat bagaimana rasanya membaca pengumuman tersebut. Campuran rasa haru, bangga, lega, sekaligus tidak percaya memenuhi pikiran saya. Semua keraguan yang sebelumnya menghantui perlahan berubah menjadi rasa syukur. Perjuangan datang ke kantor pukul lima pagi, berkali-kali melakukan retake, hingga mengorbankan waktu istirahat ternyata tidak sia-sia.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kesempatan besar sering kali hadir setelah kita berani melawan rasa takut dalam diri sendiri. Bukan tentang siapa yang paling pintar atau memiliki waktu paling banyak, melainkan siapa yang tetap melangkah meskipun dipenuhi keraguan. Keputusan sederhana untuk mencoba telah membuka pintu menuju pengalaman, pembelajaran, dan kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar